Senin, 29 Agustus 2011

GENGGAMLAH PUISI INI

Sebilah puisiku, ingin menancap di jantungmu
Terasa kesunyian menghampar bagai samudera
Kesedihan seperti deras hujan membasahi pasir di pesisir pantai
Ada yang ingin kukatakan, sebelum darah membasahi dadamu
Jalan yang kita tempuh serupa lorong gelap, tapi
cinta kita adalah cahaya penerangnya
dan genggaman tanganmu hangatkan dingin di jemari waktu.

Tubuh dan jiwaku ingin melebur ke dalam dirimu
Namun kamu lebih memilih diam sebagai persinggahan yang aman
Tiba-tiba kamu menjelma menekin di toko-toko pakaian,
berdiri di sampingku dan bisu.
Tak ada yang kutakutkan, tak ada yang kucemaskan selain kehilanganmu
Kartika, katakanklah sesuatu, katakan cinta itu serupa bait-bait puisi
Yang membara dan membakar masa silam
Yang mengembara dan melempar segala kesedihan

Genggamlah puisi ini cintaku,
Genggamlah dan tusukkan ke jantungmu
Lalu tusuklah jantungku dengan cintamu yang lebih tajam

Yogyakarta, Agustus 2011



PANTAI SEPANJANG

Memandang pantai ini dari kejauhan
seperti memandangi sebuah lukisan
dengan kedua bukit di samping kiri dan kanan mataku.
angin menyambut tubuhku dan
mengelus tubuh kekasihku dengan jemarinya yang tak tampak
Rambutku telah dikendarai angin pantai, terpental dan berjuntai
Aih Kartika, kerudung merah jambumu berkibar dan berlayar
di udara seperti sedang menarikan tarian India.

Pasir putih terlentang dan menggelepar ditikam panas matahari
tepat di bawah kaki. Lalu, kita duduk. memeluk kesepian
di tubuh kita
sambil memandangi lautan menghampar di permukaan mata,
cinta kita serupa samudera.
Di balik batu karang yang bersandar ke sebuah bukit
ombak berkejaran dan kaki kita pun basah,
ombak, seperti ikut merayakan kebahagiaan ini.

Yogyakarta, Agustus 2011

Selasa, 09 Agustus 2011

DIMANAKAH KAMU

O, aku ingin menebas leher angin
yang telah menenggelamkanku ke dasar sunyi
dengan tangan badai mencengkram tubuhku
langit serupa kanvas kelabu dengan gumpalan awan kelam

angin tidak tunduk kepada suaraku yang menggetarkan malam
dan tanah gemetar, bahkan karang mulai runtuh
rupanya teriakanku tidak sampai kepadamu, Violina.
Berulangkali namamu menggema di udara
Lewat suaraku yang serak

Aku masih ingin berteriak, sampai pita suaraku putus
Sampai seluruh pakaianku robek dan kulitku terkelupas
Oleh cakar angin.
Violina, dimanakah kamu saat sepi menembaki dadaku
Dimanakah kamu saat rindu memberat di jantungku

Yogyakarta, Agustus 2011



PARADE KESEPIAN

Bulan sabit menikam langit
Bintang-bintang menusuk malam
Sementara dadaku bergemuruh seperti laut selatan
Untuk kesekian kali, ingin kuhisap sumsum bumi
Lalu menyerap darah badai, dan mengupas lautan sunyi.

Kini darahku mengalir serupa lahar merapi
Suaraku menjerit bersama angin yang mengembara tanpa tepi
Di sudut bumi, aku tegak berdiri memandangi lautan manusia
Kesepian lebih menyerupai pecahan kaca yang runcing di mata mereka
Meskipun tampak ramai dan gaduh,
tapi sepasang mata mana yang mampu menyembunyikan kesepian?
Angin terasa angkuh, dan dingin.

Yogyakarta, Agustus 2011

Kamis, 21 Juli 2011

SUARA PALING SUNYI

Ingin kudengar suara paling sunyi
Di sudut bumi. Tapi Viola,
apakah malam-malammu pernah sesunyi ini
Di udara, angin membeku. pohonan membisu
kelam tidak membisikan apa-apa
Malam tidak mendesah, gerimis enggan tumpah


Juli, 2011


SEPI MERASUKI TUBUH DAUNAN

Apalagikah yang mesti datang setelah angin senja menampar wajahku
Dinding-dinding terlalu angkuh untuk menjadi karibku
Tas, ransel, jins, dan kemeja begitu setia mencium dinding sepanjang masa
Sedang aku di sudut kamar, mencatat gerimis yang tidak turun
seperti menulis surat cinta untuk perempuan tak bernama

Senja ini langit tidak semerah saga lagi
Daun-daun menari-nari di hadapanku
seperti mengerti kecemasanku, “kemari nak, temani kesepianku”
tanganku telah membeku sebelum mampu menyentuh wajah daun itu
apalagikah yang mesti datang setelah langit menghitam
dan matahari telah padam

Yogyakarta, Juli 2011

SETELAH MENGECUP KENINGMU

Mungkin bintang-bintang sedang sembahyang
Atau barangkali sedang terlelap didekap malam
kutulis sebuah sajak di atas selaput kesedihanmu
yang semakin tajam

Bintang-bintang tidak lagi menurunkan cahayanya kepangkuanku 
Memaksaku merobek selembar sajak yang gagal kupahat
Dari deras hujan di matamu
Aku selalu ingin memelukmu setelah mengecup keningmu
Air matamu menetes dan mencium telapak tanganku

Yogyakarta, Juni 2011

Senin, 20 Juni 2011


Waktu
-buat kawan

Malam ini kau lemparkan
ribuan anak-anak panah kehilangan
menembus jauh ke dasar gua dadaku

Barangkali jika kau mengerti, aku mengerti pula
Perasaanmu kepadaku

Barangkali kita memang sama-sama mau
saling mencintai

Cuma waktu belum merestui

Yogyakarta, April 2011


Cahaya Matamu
  
Kau tahu, yang paling aku khawatirkan darimu
Adalah kesedihan yang berjuta hari tumpah
setelah cahaya matamu berhenti menetes ke daun hatiku

Kesedihan yang tiba-tiba turun dari langit, mengguyur jiwamu.
Dan setelah itu tidak terbit lagi matahari 
dari dadamu                                                 

Sebab Tika, hanya cintamulah yang ingin benar-benar kudekap.


Yogyakarta, April 2011




Requiem

Setiap raga selalu menyimpan tumpukan
riwayat kelam
di dadanya.

Pernah merayapi hari-hari
tanpa matahari di sudut perasaannya

Dingin dan matanya begitu muram

“Mungkin, mengenang adalah mengubur
kepingan-kepingan masa silam.”

Bisikmu
sambil menumpahkan bulir-bulir mutiara
dari penjuru mata


Yogyakarta, Maret 2011