Jumat, 20 Mei 2011


Malam Mendekap Jantungmu

Aku selalu menjadi malam
saat mencium bibirmu

Hujan tiba-tiba tumpah
tanah tiba-tiba basah

Tubuhku  meringkuk  
sambil mendekap jantungmu


Yogyakarta, Mei 2011

Kamis, 21 April 2011


Sajak Buat Sepasang Kekasih
-R&A

Hari ini, kamu menusukkan sebatang kesedihan
ke jantung malam,
Lalu tba-tiba kehilangan begitu saja menyapa pundakmu
Dan matamu dibasahi kesedihan                                                                                    

Kawan, barangkali airmata tidak akan mengobati apapun
Dan esok, masih ada senja melukis senyuman di wajah langit

Yogyakarta, April 2011

Minggu, 10 April 2011


Sujud Cinta
- kartika


Kekasih, malam telah runtuh di sepasang bola mataku
Sementara di langit,
bulan diam-diam mengamati
Sujud cintaku
Kepadamu.


Yogyakarta, Maret 2011




Puisi dari Reruntuhan Mataku
-kartika

Ada yang berkilau di matamu.
Entah itu deru rindu atau
barangkali cuma cinta menyengat tiba-tiba.

Malam, hujan dan kilat menemani kita
Sementara aku tiada henti menyelinap kedalam hatimu
Lewat puisi yang kubacakan
dari reruntuhan mataku

Saat itu kepalamu bersandar di pundakku
Dan matamu memejam

Jika kau tiada, kepada siapa
mesti kutujukan puisi ini.

Lalu kepada siapa lagi,
jika bukan kepadamu.


Yogyakarta, Maret 2011



Senin, 17 Januari 2011

Disebabkan oleh Merry


Sementara api menghanguskan kapal kami,
harapan melambai dan jerit kenangan
ikut tenggelam kedasar lautan.

:pastilah kesepian kelak akan menombak perasaan kami

Sebab kamu, yang kami sayangi
Tiba-tiba menjelma kematian

:pastilah langit akan menurunkan deras hujan
dari tiap penjuru mata kami

sebab kamu, yang kami rindukan
tak menyisakan apa pun selain puing-puing masa silam
yang tercecer di rerimbun ingatan

kini, kamu telah menjelma samudera di lubuk hati kami.
 

Yogya, Januari 2011

Minggu, 02 Januari 2011

Perempuan Bermata Senja

I

Matahari dan bulan berlari
melewatiku ribuan kali.

            Sunyi menancap di ulu hati,
membungkam setiap suara
yang timbul tenggelam, menggoda samadi kelam

Sedang aku, dalam pencarianku tak kunjung menemukan,
justru kehilangan demi kehilangan menerkam dada,
kehilangan yang satu persatu runtuh dari tiap doaku
yang kulemparkan ke atas dan menembus jantung langit.

Adakah kamu selalu menunggu, hingga jarum jam membeku
atau sebenarnya yang kamu tunggu adalah kehancuranku

ingin sekali lagi kucium aroma tubuhmu, membelai rambut ombakmu
dan menyapa bibirmu dengan bibirku     

            apalah pencarian jika menemukan lalu kehilangan

II

Telah kutelanjangi separuh tubuh bumi
hanya untuk menghujani kerontang kering hatimu
dengan puisi.

Kamu tiba-tiba menepis langkahku, menghapus jejak-jejak
yang dengan tubuh berkeringat darah kutorehkan di dadamu

aroma kemarau di hatimu dan kilatan wajahmu
yang menyengat dada, menuntunku
bergerilya mencari perempuan bermata senja: kamu


Yogya, November 2010

K


Usah kau teteskan kesedihan atau apapun yang mengemas
rasa kasihan, untuk merayakan kehancuranku
Meski dadaku tak henti bergetar
Diguncang gempa 100 skala richter, tadi malam

Dadaku hampir saja retak
Saat tiba-tiba hati merintih, lalu
meraung-raung menyebut namamu.

Kugali kembali segala yang tertimbun
di kedalaman jiwa,
barangkali disana ada huruf-huruf yang
mengukir namamu.

Dan kau, telah berulang kali
membenamkan perih ke dalam memar perasaanku

Dan perasaan, kenapa begitu setia mengubur luka
di dasar kalbu
Ah, betapa aku ingin menikam lehermu
dengan lidah dan bibirku



Yogyakarta, Desember, 2010