Senin, 17 Januari 2011

Disebabkan oleh Merry


Sementara api menghanguskan kapal kami,
harapan melambai dan jerit kenangan
ikut tenggelam kedasar lautan.

:pastilah kesepian kelak akan menombak perasaan kami

Sebab kamu, yang kami sayangi
Tiba-tiba menjelma kematian

:pastilah langit akan menurunkan deras hujan
dari tiap penjuru mata kami

sebab kamu, yang kami rindukan
tak menyisakan apa pun selain puing-puing masa silam
yang tercecer di rerimbun ingatan

kini, kamu telah menjelma samudera di lubuk hati kami.
 

Yogya, Januari 2011

Minggu, 02 Januari 2011

Perempuan Bermata Senja

I

Matahari dan bulan berlari
melewatiku ribuan kali.

            Sunyi menancap di ulu hati,
membungkam setiap suara
yang timbul tenggelam, menggoda samadi kelam

Sedang aku, dalam pencarianku tak kunjung menemukan,
justru kehilangan demi kehilangan menerkam dada,
kehilangan yang satu persatu runtuh dari tiap doaku
yang kulemparkan ke atas dan menembus jantung langit.

Adakah kamu selalu menunggu, hingga jarum jam membeku
atau sebenarnya yang kamu tunggu adalah kehancuranku

ingin sekali lagi kucium aroma tubuhmu, membelai rambut ombakmu
dan menyapa bibirmu dengan bibirku     

            apalah pencarian jika menemukan lalu kehilangan

II

Telah kutelanjangi separuh tubuh bumi
hanya untuk menghujani kerontang kering hatimu
dengan puisi.

Kamu tiba-tiba menepis langkahku, menghapus jejak-jejak
yang dengan tubuh berkeringat darah kutorehkan di dadamu

aroma kemarau di hatimu dan kilatan wajahmu
yang menyengat dada, menuntunku
bergerilya mencari perempuan bermata senja: kamu


Yogya, November 2010

K


Usah kau teteskan kesedihan atau apapun yang mengemas
rasa kasihan, untuk merayakan kehancuranku
Meski dadaku tak henti bergetar
Diguncang gempa 100 skala richter, tadi malam

Dadaku hampir saja retak
Saat tiba-tiba hati merintih, lalu
meraung-raung menyebut namamu.

Kugali kembali segala yang tertimbun
di kedalaman jiwa,
barangkali disana ada huruf-huruf yang
mengukir namamu.

Dan kau, telah berulang kali
membenamkan perih ke dalam memar perasaanku

Dan perasaan, kenapa begitu setia mengubur luka
di dasar kalbu
Ah, betapa aku ingin menikam lehermu
dengan lidah dan bibirku



Yogyakarta, Desember, 2010
  
                                       

Jumat, 31 Desember 2010

Peristiwa Tadi Malam

;yulia


Tadi malam, wajahmu menggiring degup jantungku
            menuju ingatan waktu
            menuntunku meyelami kembali kenangan-kenangan
            yang telah terkubur dalam ingatan.
Seperti pulang,
            Kau mengajakku menyantap hidangan masa silam,
            menyuruhku meminum anggur darah
dari luka yang kau peras sendiri. Lalu
kau memaksa bibirku mengeja setiap lekuk bibirmu.

Malam dan hujan berpelukan, penuh kasih. mereka saling berciuman.

;malam mengira hati kita telah menyatu
           

Jakarta, 2010


Kamis, 23 Desember 2010

Variasi Kecemasan


I
Jalanan masih sepi
Saat angin menyisir rambutmu
Aku tahu bahwa hatimu remuk

Adakah seseorang mampu merekatkan
fragmen-fragmen hati yang berserak
Adakah seseorang iba menyaksianmu luluh lantak

II

“Masih ada bumi  yang menopang kedua kakiku”
katamu pada suatu senja yang penuh luka

Tubuhmu menggigil, bukan karena dingin angin
Tapi disebabkan oleh maut
Di sana namamu selalu disebut

“aku tidak mampu mengelak dari kesunyian"
Sedang maut adalah  bayang nasibku yang paling setia

Jalanana masih tetap sepi


Yogya, 2010